Breaking News

Kata Benda dari Sudut Pandang Semantik dan Sintaksik

 


PADANG-iniPas.com

Masih berdasarkan pada buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, keberadaan kata benda alias nomina dapat dari dilihat tiga segi fiturnya, yakni dari segi semantis, segi sintaksis, dan segi bentuk. Berikut adalah uraiannya. Berikut ini penjelasan mengenai kata benda dalam semantik dan sintaksis

1. Nomina Dilihat Dari Segi Perilaku Semantisnya

a) Nomina yang Mengandung Fitur Semantik Universal

Sesuai dengan namanya, maka nomina ini pasti mengandung makna yang bersifat umum. Artinya, seluruh masyarakat sebagai pengguna bahasa sudah memahami makna dari kata tersebut. Contohnya pada kata “sapi”. Dalam Bahasa Indonesia, kata “sapi” memiliki makna berupa ‘hewan ternak berkaki empat, dengan mata berjumlah dua, warna tubuh yang memiliki corak hitam-putih, coklat, hingga coklat-putih, dan dapat menghasilkan susu’. 

Menurut Chaer (2012), nomina yang mengandung fitur semantik universal juga dapat berkaitan dengan bagaimana budaya dari pengguna bahasa. Contohnya adalah kata “budak”. Dalam budaya Bahasa Indonesia, kata tersebut memiliki makna sebagai ‘seseorang yang dipekerjakan untuk sesuatu hal dan tidak dibayar’. Sementara dalam budaya Bahasa Melayu, kata “budak” justru memberikan makna sebagai ‘anak-anak atau seseorang yang belum dewasa, baik laki-laki maupun perempuan’. Oleh karena itu, dalam fitur semantik universal ini akan selalu berkaitan dengan bagaimana makna kata dari pengguna bahasanya.

b) Nomina yang Mengandung Fitur Semantik Kodrati

Dalam hal ini, maka kata benda alias nomina akan berkaitan dengan kegiatan yang lumrah pada kata tersebut. Misalnya kata “semangka” yang merupakan kata benda, memiliki fitur semantik kodrati yang berupa ukuran, berat, warna, dan bentuknya yang bundar. Yap, tidak ada buah semangka yang bentuknya memanjang, meskipun jika dalam bentuk kotak itu ada. Maka dari itu, fitur semantik kodrati ini tidak akan mengalami penyimpangan dari sifat kodrati dari kata benda itu sendiri.

Kata benda dari segi perilaku semantik dan contohnya:

Kata benda yang mengandung fitur semantik universal Balon

Kata benda yang mengandung fitur semantik kodrati Pensil

2. Nomina Dilihat Dari Segi Sintaksisnya

a) Nomina Sebagai Pembentuk Frasa

Sebagai inti frasa, maka nomina akan menduduki bagian utama, sedangkan pewatasnya berada di bagian depan atau belakang kata benda itu. Pewatasnya ini dapat berupa jenis kata lainnya, mulai dari kata numeralia, kata adjektiva, kata verba, dan lainnya. Contohnya, pada kata benda “gedung”. Jika dirangkai dengan kata adjektiva “mewah”, maka dapat membentuk frasa nomina berupa ‘gedung mewah’. Pada frasa nomina ‘gedung mewah’ ini, kata benda “gedung” akan berperan sebagai inti frasa, sementara kata sifat “mewah” akan berperan sebagai atributnya.


Nomina Diikuti Kata Benda

Pada pembentuk frasa ini, kata benda dapat diikuti oleh kata benda pula. Jadi, baik inti frasa maupun atributnya pun juga akan sama-sama berupa kata benda lias nomina. Contoh: burung merpati, alat keseimbangan, buku biru

Nomina Diikuti Kata Kerja

Pada pembentuk frasa ini, kata benda dapat diikuti oleh kata kerja (verba), sehingga inti frasa akan berupa kata benda, sementara atributnya akan berupa kata kerja. Contohnya: meja tulis, pola berpikir, tabungan berjangka, keluarga berencana.

Nomina Diikuti Kata Sifat

Pada pembentuk frasa ini, kata benda dapat diikuti oleh kata sifat (adjektiva), sehingga inti frasa akan berupa kata benda, sementara atributnya akan berupa kata sifat. Contohnya: katak dewasa, istilah baru, pendapat yang aneh, makan enak.

Nomina Didahului Kata Preposisi

Pada pembentuk frasa ini, kata benda dapat didahului oleh kata preposisi (kata depan). Contohnya: di kantor, dari kamar, pada masa itu, dan lainnya.

Nomina Didahului Kata Sifat

Pada pembentuk frasa ini, kata benda dapat didahului oleh kata sifat (adjektiva). Contohnya: biru langit, merah darah, hijau daun, dan lainnya.

b) Nomina Sebagai Pembentuk Klausa

Menurut Badru, dalam kerangka struktur klausa tataran sintaksis, kata benda justru dapat menempati tempat kosong. Artinya, dapat memenuhi fungsi sebagai subjek, predikat, objek, pelengkap, maupun keterangan.

Nomina Menempati Fungsi Subjek

Jika kata benda menempati fungsi subjek, maka letaknya pun biasanya berada di awal kalimat, baik itu berupa kata benda (nomina) maupun frasa nomina. Contoh: “Dengan demikian, lukisan dapat dipindahkan sesuai kehendak Ketua”.

Pada kata “lukisan” yang merupakan kata benda, dapat memenuhi fungsi sebagai subjek. Sementara kata “dengan demikian” justru bukan subjek, melainkan konjungsi antar kalimat. Meskipun letaknya di awal kalimat, konjungsi tersebut tidak dapat memenuhi fungsi subjek.

Nomina Menempati Fungsi Predikat

Contoh: Ibunya seorang apoteker.

Pada kalimat tersebut, frasa “seorang apoteker” merupakan frasa nomina yang sekaligus menduduki fungsi predikat.

Nomina Menempati Fungsi Objek

Contoh: Kelompok 5 membutuhkan uang.

Pada kalimat tersebut, kata “uang” yang merupakan kata benda, menduduki fungsi objek. Terlebih lagi, kata “membutuhkan” juga merupakan verba transitif yang berfungsi sebagai predikat.

Nomina Menempati Fungsi Pelengkap

Contoh: Tape adalah hasil peragian singkong.

Pada kalimat tersebut, frasa hasil peragian singkong merupakan frasa nomina yang bukan sebagai fungsi objek, melainkan sebagai fungsi pelengkap. Terlebih lagi, frasa tersebut tidak dapat dipasifkan.

Nomina Menempati Fungsi Keterangan

Contoh: Kami baru saja kembali dari Semarang.

Pada kalimat tersebut, frasa dari Semarang yang merupakan frasa nomina, menempati fungsi keterangan pelaku karena menerangkan pelaku pada fungsi subjek. Itulah penjelasan kata benda dalam semantik dan sintaksis. Semoga bermanfaat! (006/BBS)


No comments